Apa cita citamu nak ? cita cita saya jadi dokter, tentara, polisi, guru. Memang Jarang ketika masih kecil punya cita cita jadi Penyiar. Menjadi Penyiar selalu muncul ketika usia remaja, sebab kesan “fun” seneng seneng memang muncul untuk profesi penyiar. Sehingga biasanya anak anak belasan tahunlah yang dominasi melarikan diri harapan dan cita citanya ke profesi dadakan “jadi penyiar “.
Mari kita luruskan masalah yang semakin kacau ini , dengan saya akan membuka aib dan segala tetek mbengek,kerumitan, menjadi penyiar radio.

Hal yang tidak bisa ditinggalkan oleh siapa saja yang mau jadi penyiar radio adalah, dia musti memiliki KEPEKAAN RASA, tapi bukan SENSITIF NEGATIF atau GEDE RASA. Ini mutlak , salah satunya berfungsi agar peka terhadap jalan cerita sebuah lagu, ketukan irama, dan pada atsmosphere yang bagaimana sebuah lagu itu akan nyaman dan indah untuk di sajikan ke pendengar. nah , sampai disini anda mulai ribet memahaminya ? maaf beginilah gaya penulisan saya, saya memang lemah dalam penataan tulisan.

Kita sederhanakan saja deh. Anda lihat gambar disamping itu , itu adalah gambar sebuah software pemutar lagu, kalau dulu ketika belum ada komputer, semua lagu ,iklan diputar dengan tape recorder, nah sekarang udah canggih pake komputer lalu Tape recorder nya di ganti software itu , banyak macamnya : winamp,raduga,jazzler,pc dj, dll.
Tugas penyiar adalah bagaimana memutar lagu ,menyambung lagu, memotong lagu lewat perangkat ini dengan “manis”tanpa cacat . sehingga pendengar di rumah menerima “mixing” atau pencampuran penyiar dengan “nikmat:. so, penyiar adalah seperti seorang koki masakan. Enak nggak nya , laris nggak nya, banyak pelanggan atau nggak nya , semua ditangan sang pencita rasa yaitu koki,
Dulu saya sering ngintip ketika penyiar radio dengan sangat CEKATAN tangannya seperti memiliki mata ,merayap dari satu tombol ke tombol lainnya memainkan lagu dan iklan pake Tape recorder, mereka di tuntut piawai dalam hal ini .

Tapi sekarang ketika jaman makin canggih, saya jarang menemukan kesempurnaan ketika lagu satu di sambung lagu berikutnya terdengar manis. padahal kita sudah tidak pake tape recorder lagi. Jadi semestinya akan lebih ciamik hasil mixingnya atau hasil ramuan kokinya . Fakto apa ini ? langsung saya jawab , faktor malas seorang penyiar. karena dengan alat putar yang di setting otomatis , seorang penyiar pun bisa sambil tiduran membiarkan software bekerja sendiri memutarkan lagu lagu , sampai nge-sessssssssssssssss, noise karena playlistnya habis ,dan sang penyiar masih tertidur.
wassalam ..